By : Leny Indu

Rubrik : Mengulas Cerita Lama (MCL)

“Sayang,,, , “aku pulang dulu ya, sudah terlalu malam nih…, ga enak sama warga , tamunya kamu tiap malam aku melulu, hehe…” kata Thomas sambil bangkit dari tempat duduknya.

Kelang setahun, setelah kecelakaan itu. Aku masih setia dengan Thomas, pria satu-satunya dalam hatiku yang sangat aku cintai dengan sepenuh hatiku. Dan setahuku, Thomas juga sangat mencintai aku. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk bersatu.

Seperti biasa, selepas memberi makan ayam-ayam ternakku, aku bergegas ke tempat kursus salon. Aku belajar tata kecantikan wajah dan rambut, tujuanku sih supaya bisa dandan sendiri, dan juga buat cari duit kalau sudah pinter mengolah salon sendiri.

Tit tit…bunyi nada SMS, Thomas mengirimi pesan : sayang, jangan lupa makan. Nanti pulang kursus jam berapa, kalau aku pulang cepat ntar aku samperin ya, nih aku lagi ngurus kerjaan di Maryke. Lekas kabari ya. Mwaaachh… “

“Aku sampai di salon, masih ada waktu sebelum jam kursus mulai. Balas SMS Thomas dulu, : y sayang, ntar jam 4 q plg. Jemput y. Tq

Balasan pun masuk : ok syg. Thomas menjemputku, selalu dia meminta supir untuk membeli buah-buahan dan makanan lainnya, untuk kubawa pulang. “Din, berhenti dulu sebentar disini, ada yang harus kupesan. Tunggu ya.” ujar Thomas kepada Udin supir.

Thomas mengajakku turun, dan berjalan ke sebuah toko mas, dan masuk kesitu. “Ada yang bisa kami bantu Pak, silahkan dilihat- lihat dulu perhiasannya” sambut pelayan toko itu dengan ramah. Thomas meminta pelayan itu untuk mengukur jari manisku. No.10, lalu memilih contoh cincinnya.

Ternyata Thomas ingin menempah cincin untukku, cincin berukir nama Leny , sepuluh gram beratnya. Setelah memberi uang panjar, Thomas mengambil surat kwitansinya. Kami kembali ke mobil. Aku tak bicara apapun. Firasatku tak enak. Bapak melarangku meminta apapun selama kami belum dalam ikatan. Bapak tak mau aku berhutang budi bila suatu saat nanti kami tidak berjodoh. Tapi aku tak bisa menolak, Thomas terlihat tulus sekali ingin selalu membahagiakan aku.

” Sampai dirumah, aku mengucapkan terima kasih kepada Thomas dan juga Udin, supir yang sudah seperti sahabat karib buat kami. ” Sayang, nanti malam kita makan diluar ya, gak jauh-jauh koq, dekat situ aja.” kata Thomas sebelum Udin memulas stiurnya. Ok deh…tiati bang Udin, jangan ngebut-ngebut ya…”kataku.

Aku masuk rumah, selalu rindu sama bapak dan ibuku, walau sebentar saja aku pergi. “Pak, yuuk, kehalaman belakang, sambil lihat-lihat ayamku, lucu loh…nggemesin, gendut-gendut lagi…”kataku seraya memapah bapak keluar untuk menghirup udara sore. “Ibuku , nobel soul bagiku, wanita anugerah Tuhan yang melahirkan aku, tak pernah lupa membuatkan kami teh manis dan makanan kecil untuk bersantai di pekarangan.

Bapak sangat senang, melihat ayam-ayam ternakku sehat. Ada yang merawatnya dengan sangat baik, dia tetanggaku, sahabatku, karyawan terbaikku, Adi. Teh manis juga tersedia selalu baginya, sebab ibu menganggapnya seperti anak kandung sendiri.

Malam lagi, aku sudah standby dengan ponsel ditangan. Thomas memberi kabar, bahwa dia akan segera berangkat menjemputku. Aku sudah bersiap, rambutku ku untai, agar angin tak membuatnya kusut.

Tiiin… Klakson satu kali , Thomas memberi kode. Aku pamit pada orangtuaku. “Mana helmku…?” tanyaku. “Cuma disitu aja, simpang situ, ga usah pakai helm deh, aku pelan2, janji…” aku pun naik diboncengan.

“Dah…nyampe. deket banget kan dengan rumah adek …hehehe…” kata Thomas. Iya yah, aku saja yang terlalu kuper, tak tahu lokasi tempat jajan walau sekitaran rumah. “Ayam bakar empat ya, nasi goreng spesialnya satu saja, teh manis dingin, es kosong dan jus tomat satu ya…” pesan Thomas kepada pelayan warung. Kami makan sambil berbincang disana.

Masih trauma bekas kecelakaan dulu. Nih sudah mau pulang, aku siap diboncengan.

“Lagi,,,,, gerimis juga membuatku teringat lagi bibir jontor itu. Benar saja, malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih. Sudah nasib, aku lagi yang bonyot. Sebuah sepeda motor butut tanpa lampu penerang apapun, menubruk kami saat kami berbelok menyeberang kearah pulang. Aaah… Aku cepat bangun dari timpahan motor, sudah ingin ku tonjok bocah pengendara motor gak bener itu, sambil pincang-pincang kakiku aku marah-marah, para tetanggaku pun segera datang dan menengahi masalah. Thomas lungkrah tak berdaya, dia lemas karena trauma. Padahal dia tak kenapa-kenapa, malah mata kakiku kiri-ku, engselnya lepas.

“Kalau sudah makan korban, baru kau urut-urut silsilah!!!” ucapku sambil emosi, kepada anak baru gede, yang ternyata madih family jauh dengan keluarga besar besan orangtuaku. Lagi, ternyata dia bekerja di bengkel reparasi sepeda motor milik sepupuku. “Aah…nasib. tak tega juga minta uang perobatan padanya, anak orang susah banget.

Akhirnya atas banyak pertombangan, anak itu tidak kulapirkan dan kubebaskan dari tuntutan.

Mungkin ini arti firasatku tadi sore, soal cincin itu. Sudahlah, sudah kehendak Tuhan, mungkin ini peringatan, Aqku bersyukur kepada Tuhan, begitu banyaknya pertolongan yang Tuhan berikan, aku selamat lagi.

_ B E R S A M B U N G _

Medan, 31/08/2019

Facebook Comments