Tangerang Kotaderapfakta.com, Beroperasinya koridor 2 Bus Rapid Transport (BRT) Trans Kota Tangerang jurusan Perumnas-Poris Plawad oleh Pemerintah Kota Tangerang masih terbilang belum memenuhi syarat dengan apa yang telah di ungkapkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang sebelumnya.

Kepala Dishub Kota Tangerang Saeful Rohman pernah mengatakan, BRT Trans Kota Tangerang koridor 2 dengan rute Perumnas-Poris Plawad. BRT koridor 2 yang jumlah armada yang dipersiapkan ada 10 dengan jumlah haltenya kurang lebih ada 20.

Memang dalam penataan dan peningkatan dari segi pembanguan, pendidikan dan tidak lepas dari sarana tarnsportasi pun Kota Tangerang memliki peningkatan.

Namun di sayangkan, kehadiran BRT Trans Kota Tangerang pada bulan April lalu yang tujuannya untuk memudahkan masyarakat dengan memanfaatkan pelayanan ternsportasi lebih mudah ,cepat , murah, hanya dengan membeli tiket seharga Rp.2000, pengguna angkutan umum/massal tersebut belum terbilang aman.

Terlihat sarana baik menaikan dan menurunkan penumpang, sebagian tidak di pasilitasi halte seperti yang disebutkan oleh Kadishub Kota Tangerang, hasil pantauan awak media derapfakta.com pada Selasa (18/9/2019), nampak di Jalan Pandan, Kelurahan Karawaci Baru, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang yang disebut perempatan kantor perum I, hanya dengan papan informasi saja, tidak ada Halte untuk pasilitas menaikan dan menurunkan penumpang.

Ditambah lagi kendaraan masal itupun kerap melintas menyasar kepermukiman, hal itu juga dikeluhkan dari berbagai supir angkutan umum, seperti salah satu supir angkutan yang tidak mau disebutkan namanya, “ kami sangat keberatan sekali dengan hadirnya kendaraan operasional yang di luncurkan pemerintah Kota Tangerang, dampaknya kami semua mengeluh, penumpang kami berkurang, akibat itu tadi, Trans Kota Tangerang senaknya menaikan dan menurunkan penumpang semaunya jadi sudah kayak angkot saja mereka.

Sedangkan kami harus mengejar setoran dan harus pulang bawa uang untuk anak istri, kalau begini kami untuk setoran aja kurang, “keluhnya.

Menurut “Ujang Umar Jaya selaku ketua tim Investigasi Lembaga Pemantau Penyelenggara Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (LP3NKRI) sangat menyangkan terkait operasional Trans Kota Tangerang tersebut, Kami menerima pengaduan langsung terkait beroperasinya trans kota koridor 2 yang baru diujicoba melalui Route yangg di lalui R02, R11, R07 dan R14 ini menimbulkan banyak keluhan para sopir angkot.

Dan selasa tgl 18 sept 2018 kami diundang paguyuban sopir angkot utk surlok di perum 1, Dari dialog langsung dengan puluhan sopir angkot, di dapati pernyataan sikap kepada Pemkot Tangerang melalui LP3NKRI lembaga pemantau untuk dapat di evaluasi kembali hal operasional Transkota yang melintas di pemukiman jln perumnas 1.2.3.

Karena dengan menaikan dan menurunkan penumpang sembarangan itu bisa mebahayakan penumpang itu sendiri, karena ini Bus Trans, bukan Angkotan biasa jadi pemerintah juga harus memikirkan keselamtan penumpang, Pungkasnya. (Df)

Facebook Comments