Derap fakta – Jakarta, Senin (23/4), para mitra pengemudi ojek online kembali melakukan aksi demonstrasi yang kali ini digelar di depan Gedung DPR RI, Jakarta. Rombongan pengemudi ojek online Go-Jek dan Grab se-Jabodetabek itu menuntut tarif yang mereka anggap tidak manusiawi.

Melihat aksi pengemudinya itu, duo perusahaan transportasi online Grab dan Go-Jek pun angkat bicara.

Dari pihak Grab, Managing Director Ridzki Kramadibrata, mengatakan bahwa pihaknya telah menjadikan permintaan kenaikan tarif para mitranya sebagai aspirasi bagi perusahaan, namun Grab juga mengaku memiliki kekhawatiran akan kehilangan penumpang apabila menaikkan tarif secara signifikan.

“Jika menaikkan tarif secara signifikan dikhawatirkan justru akan berpotensi menurunkan jumlah permintaan penumpang dan akan mengancam kelangsungan pendapatan ratusan ribu mitra pengemudi,” kata Ridzki, dalam pernyataan resmi yang diterima derapfakta.com.

Secara teknis pada program aplikasi Grab sendiri, pengemudi akan mendapat tarif yang lebih tinggi ketika permintaan semakin tinggi. Oleh karena itu, jika tarif dinaikkan dikhawatirkan akan berdampak buruk pada pendapatan mitra.

Selain itu, Ridzki juga mengatakan kebijakan tarif tidak bisa dikaitkan dengan kompetitor karena area tersebut tidak bisa diatur.

“Sehingga apabila kami menyepakati tarif dengan kompetitor terkait tarif itu, kami akan melanggar larangan kartel berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,” tegas Ridzki.

Sementara itu dari pihak Go-Jek menyatakan kesediaan mereka untuk berdiskusi terkait dengan penyesuaian tarif yang sesuai dengan arahan dari pemerintah.

Go-Jek siap berdiskusi soal tarif

Go-Jek mengaku memiliki komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan mitranya, termasuk soal tarif yang harus sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.

“Kami terbuka untuk berdiskusi terkait dengan penyesuaian tarif, sesuai dengan arahan dari pemerintah,” ujar Nila Marita, Director Corporate Affairs Go-Jek, dalam pernyataan resmi yang diterima derapfakta.com.

“Kami harap pemerintah dapat memberikan arahan dan jalan keluar yang konsisten dan sustainable dalam kesejahteraan mitra driver dan juga kenyamanan masyarakat dalam menggunakan layanan aplikasi online,” lanjut Nila.

Di akhir pernyataannya, Nila menyatakan Go-Jek siap mematuhi peraturan yang diberlakukan pemerintah, termasuk soal tarif.

Para mitra pengemudi kini telah selesai berorasi dan para mitra ojek online telah membubarkan diri.

Masalah mengenai tarif ojek online yang dianggap terlalu rendah oleh para mitra pengemudi memang sedang menjadi sorotan saat ini. Meski telah terjadi pertemuan antara pemerintah dengan aplikator, lalu aplikator dengan mitra pengemudi, hingga kini belum ada kepastian mengenai kenaikan tarif yang akan dilakukan aplikator.(red)

Facebook Comments