Tangerang | derapfakta.com, Berawal dari sakitnya seorang Nenek atas nama Supinah, dan Supinah adalah nenek dari Hari Laksana warga Kp solong desa Tipar Raya kecamatan Jambe yang sudah beberapa hari terbaring di Rumah sakit Hermina Bitung, setelah dirawat beberapa hari kemudian Nenek tersebut tak tertolong lagi, dan atas keterangan Rumah sakit nenek tersebut meninggal Dunia.

Setelah dinyatakan meninggal oleh pihak Rumah sakit, Hari laksana yang juga cucu dari Almarhum tersebut selaku penanggung jawab meminta bantuan kepada pihak pemerintah Desa untuk meminta bantuan untuk menjemput pengambilan Jenazah Almarhum Neneknya memakai mobil ambulans yang ada di Puskesmas Jambe, namun pihak puskesmas Jambe tidak memperbolehkan dengan alasan ambulans tersebut hanya dipergunakan untuk rujukan pasien sakit atau persalinan saja.

Atas informasi tidak diperbolehkan tersebut akhirnya Hari Laksana terpaksa memakai mobil ambulans yang ada dengan mengeluarkan sejumlah biaya yang pada saat itu Hari sendiri dalam kebingungan soal biaya.

Setelah sampai dirumah Hari Laksana menyampaikan rasa kecewa atas tidak diperbolehkan nya menggunakan mobil ambulans milik puskesmas Jambe, yang merupakan untuk fasilitas warga Jambe, kemudian tiba-tiba warga lain inisial E datang menghampiri dan menyampaikan bahwa mobil Ambulans milik puskesmas Jambe pernah dibawa untuk menjemput Jenazah Almarhum istri dari pak kepala desa saat itu dan yang membawa mobil tersebut (M) yang menjadi supir nya saat itu, ucap E memberikan keterangan.

Atas ketimpangan informasi tersebut Hari Laksana datang ke kantor Lembaga swadaya masyarakat Badan pengawas penyalahgunaan anggaran dan aset Negara (BP2A2N) untuk minta didampingi untuk Silaturahmi dan meminta informasi kepada pihak Puskesmas Jambe.

Pertama kami datang ke puskesmas menurut informasi dari penjaga Pos Security bahwa kepala Puskesmas Jambe sedang rapat, lalu siapa yang bisa kami temui, dijelaskan bahwa semua sedang rapat, kami kembali, kemudian hari kedua pun sama kami mendapatkan informasi bahwa kepala Puskesmas jambe masih rapat dan belum ada yang bisa ditemui.

Lanjut, di hari ke tiga kami datang kembali dan kembali jawabannya bahwa kepala Puskesmas Jambe sedang rapat lalu siapa yang bisa kami temui atau yang berkenan untuk menemui kami, dengan menunggu dengan alasan rapat dan akhirnya kami pulang dengan ketidakpastian.

Atas hal tersebut, Ahmad Suhud yang selaku Direktur Eksekutif LSM BP2A2N menyayangkan pihak puskesmas Jambe yang terkesan tertutup soal informasi, padahal ini adalah keluhan masyarakat Jambe yang akan di sampaikan namun pihak puskesmas seolah acuh dan tak perduli, kami berharap pihak Puskesmas jambe terbuka soal informasi agar masyarakat tak jadi bingung dan tidak boleh adanya perbedaan perihal penggunaan fasilitas kepada siapapun bila itu benar terjadi karena puskesmas jambe ya milik masyarakat kecamatan Jambe, tutupnya.

(YudiP)

Facebook Comments