Tangerang | derapfakta.com, Keharusan sebagai sosial kontrol untuk melakukan konfirmasi dan klarifikasi guna penyimbangan suatu informasi publik (berita-red), namun hal tersebut saat team awak media dan lembaga tengah menyambangi Lapas jambe guna konfirmasi tersebut berujung adu mulut dengan 2 Orang oknum penjaga Lapas.

Dikatakan Ahmad Suhud selaku Direktur Eksekutif LSM BP2A2N yang bergabung di Aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat Tangerang Raya (ALTAR), dan sekali gus dirinya sebagai Sekjen DPC LAPBAS Kabupaten Tangerang menyayangkan sikap pelayanan penjaga Lapas jambe, ucapnya pada Senin (29/3/2021).

**** BACA JUGA ALTAR Soroti Dugaan Insiden Penganiayaan Warga Binaan Lapas Jambe

Kami datang baik-baik, namun salah satu sikap penjaga Lapas dengan gaya petantang petenteng menanyakan keperluan kami, kami ingin bertemu dengan Kalapas, di jawab oleh oknum tersebut, sudah ada janji apa belum, kami menimpali pertanyaan dari penjaga tersebut,

“Ya belum lah bos, makanya kami datang untuk melakukan konfirmasi dan klarifikasi terkait berita dari rekan-rekan media, ada warga binaan yang diduga menjadi korban penganiayaan didalam Lapas, jelas Suhud.

Dan fakta dugaan tersebut yang di dapat dari narasumber yakni orang tua korban, yang putranya menjadi warga binaan yang sudah 13 bulan lebih, jelas Suhud.

Namun kembali oknum penjaga Lapas tersebut, sesuai SOP harus janji dulu dengan Kalapas, sebab disini setara dengan kedudukan Polres, ucap si penjaga.

Dilanjut diterangkan jika tidak bisa bertemu dengan kalapas, Team meminta siapa yang bisa kami temui untuk menjawab konfirmasi kami guna kelanjutan berita dari rekan-rekan media dan kami sebagi lembaga, jelas Suhud.

Setelah dijelaskan, kedua oknum Lapas tersebut memerintahkan kami untuk menunggu, karena maksud dan tujuan kami akan di sampaikan terlebih dahulu kedalam.

Masih Ahmad Suhud, selang beberapa lama, kami di hampiri kembali oleh fu aoknum atas nama DM dan MC, dan menyampaikan kalapas tengah rapat dan tidak bisa di ganggu.

Namun tetap dengan gaya angkuhnya, kedua penjaga Lapas tersebut oknum DM mempersalahkan dan tidak terima dipanggil boss, Apa kamu bas bos bas bos, gak sopan banget kamu ucap DM.

“ini kan bahasa keakraban kami sebagai orang lapangan, tegas Suhud.

Kemarahan kami pun memuncak akibat nada bahasa dari kedua oknum tersebut agak nada keras, terkesan tidak menghargai kami sebagai sosial kontrol yang jelas-jelas bermitra dengan siapa pun.

Sudah dijelaskan kami kesini untuk konfirmasi, malah pihaknya menyalahkan rekan-rekan kami sebagai wartawan yang telah menayangkan berita tentang dugaan penganiayaan terhadap salah satu warga binaan yang di Blok 4, jelas ini diskriminasi kepada lembaga dan Media.

Tidak patut mereka bersikap seperti itu, dimana sebagai pejabat pelayan publik, imbuhnya.

Ini sangat merendahkan kami sebagai sosial kontrol, bahkan salah satu dari mereka atas nama MC, dengan nada keras, kamu belum tau saya, saya makan kamu, dengan menunjuk saya, ucap Suhud.

Dengan itu mereka tidak tidak puas dan mempertanyakan sembari memaksa KTA kami, bersikap seperti jagoan, ada satu lagi atas nama DM, dia melontarkan kamu belum kenal saya, Jenderal bintang dua yachhh,..”

“entah apa yang di maksud dia sampai bilang Jendral bintang dua, atau mungkin dia arogansi seperti itu lantaran dibekingin jenderal berbintang dua, geram Suhud.

Seharusnya sebagai pelayan publik tidak boleh bersikap arogansi seperti itu, kedatangan kami karena tugas lembaga dan Media sebagai sosial kontrol, imbuhnya.

Kami meminta untuk Kalapas agar bisa mengarahkan anggota dan pejabat Lapas lainya untuk bisa bersikap tidak seperti premanisme.

Kami punya kesimpulan, dengan terjadinya ini, Aparat penjaga nya aja bisa bersikap seperti ini, jadi bisa jadi insiden penganiayaan yang tengah kami up kasusnya, bisa saja terjadi kebenarannya, ucap Suhud.

Kami juga punya hak untuk bisa mendapatkan keterbukaan informasi publik, dari rekan-rekan media memiliki hak yang di lindungi Undang-undang dalam melaksanakan tugas, tutup Suhud.

(Team-red)

Facebook Comments