Jakarta | derapfakta.com, Sidang pertama laporan terkait dugaan oknum dokter yang berinisial AD pada bulan April 2020 lalu terhadap LYP (25) Tangerang yang memaksa kekasihnya aborsi di kos-kosan diwilayah Tangerang Selatan yang berujung pelaporan ke pihak MKDKI Jakarta di Jl. Teungku Cik Didiro No. 6 Gondnag Dia Kec. Menteng Jakarta Pusat.

LYP (25) dan LDA (44) orang tua korban dengan didampingi kuasa hukumnya, proses persidangan dilaksanakan pukul 14:00 sampai pukul 14:30 secara tertutup dan virtual. 

Di usai persidangan, dua pengacara korban kasus aborsi tersebut, Oktavianus Tambunan, SH dan Antonio Doli Tambunan, SH mengatakan, dalam sidang pemeriksaan saksi pengadu terkait kasus aborsi itu, pihak Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) hanya meminta keterangan dari klien kami ucapnya.

**** BACA JUGA Dugaan Aborsi Paksa Oleh Oknum Dokter di Tangerang, Keluarga Korban Hadiri Sidang Tertutup MKDKI Jakarta

“Pihak dokter di MKDKI tadi menanyakan kembali terkait kronologis dan kebenaran kasus yang kita laporan ini,” ungkap Oktavianus Tambunan dan Antonio Doli Tambunan kepada wartawan seusai sidang di MKDKI Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Oktavianus Tambunan menjelaskan, kedua orang ini yaitu kliennya LYP (25) dengan oknum dokter AD pernah menjalin hubungan percintaan yang akhirnya melakukan hubungan intim dan kemudian hamil, sementara lanjut dia, oknum dokter AD ini tidak mau bertanggung jawab lebih memilih untuk di aborsi.

“Yang intinya kami melaporkan tindakan seorang oknum dokter AD ini yang tidak mau bertanggung jawab malah lebih memilih untuk tindakan aborsi,” ujar Oktavianus Tambunan bersama Antonio Doli Tambunan

Dikatakannya, sebagai seorang dokter yang sudah di sumpah sesuai dengan jabatannya seharusnya dia faham itu dan ada kode etiknya.

“Yang kita tuntut adalah tindakan aborsi yang dilakukannya, dimana dia itu seorang dokter yang aktif dan terdaftar di IDI, maka dari kita minta MKDKI untuk memberikan sanksi yang tegas,” tegasnya.

Sementara lanjut dia, oknum dokter AD, saat itu aktif bekerja di rumah sakit di wilayah Kec.Jatiuwung Kota Tangerang, bahkan lanjut Oktavianus, obat untuk aborsi pun sang oknum dokter didapatkannya di rumah sakit itu.

“Dulu oknum dokter AD bekerja di rumah sakit ibu dan anak RSIA Jatiuwung, sekarang informasinya dia sudah dikeluarkan, sementara obat yang di pakai aborsi dapatnya di rumah sakit itu juga,” jelasnya.

Disinggung ada rumor yang beredar bahwa oknum dokter AD telah memberikan uang sebesar 20 juta rupiah, hal itu dibantah oleh pengacara korban.

“Itu kata dia sudah dikirim ke lowyernya, namun sampai saat ini kami belum menerima, ya kalau ada tunjukkan bukti transfernya,” pungkasnya.

(Ryan-red)

Facebook Comments