Tangerang |derapfakta.com, Setelah Kepala Sekolah (Kepsek) Wiji dan Bendahara BOS tahun 2019 Subaih dilaporakan ke Inspektorat Provinsi Banten. Kini keduanya, melaporkan guru SMAN 21 Kabupaten ke Polresta Tangerang atas tuduhan pencurian dan kekerasan.

Adapun jenis kasus yang dilaporkan yakni pencurian LPJ BOS tahun 2019 dan dugaan kekerasan yang dilakukan kepada mantan bendahara Bos tersebut.

Dikutip dari laman media liputankota.com, Ketua Komite SMAN 21 Kabupaten Tangerang Andy Juweni mengatakan, dalam upaya menuntut keadilan atas kasus dugaan penyelewengan dana BOS SMAN 21 Kabupaten Tangerang, pihaknya bersama siswa, guru, alumni dan masyarakat meminta Polresta Tangerang menghentikan laporan tersebut.

“Kami aksi karena guru yang berani membongkar kasus ini dilaporakan dengan tuduhan yang tidak jelas. Kami minta kelanjutan laporan segera dihentikan, karena itu termasuk bentuk kriminalisasi terhadap guru yang telah berani membongkar kasus tersebut,” kata Andy, Senin (29/6/2020).

Menurutnya tuduhan pencurian LPJ tersebut tidak mendasar karena LPJ tersebut juga sebelumnya telah tersampaikan ke Inspektorat Provinsi Banten. Kemudian tuduhan penganiayaan itu juga dibuat mengada-ngada, karena guru yang memukul mantan bendahara BOS itu, lantaran guru tersebut dicekik lehernya dahulu dengan menggunakan lengannya oleh Subaih.

“Hal itu terjadi saat inspektorat Banten mengunjungi SMAN 21 Kabupaten Tangerang pada Jum”at kemarin. Besoknya Wiji dan Subaih membuat laporan tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, rekan-rekan guru SMAN 21 Kabupaten Tangerang meminta laporan terkait penyelewengan dana BOS agar secepatnya ditindaklanjuti. Diketahui dugaan penyelewengan dana BOS reguler tahun 2019 senilai Rp1,2 miliar.

Sementara itu Kuasa Hukum Komite Sekolah SMAN 21 Kabupaten Tangerang Yunihar mengatakan, aksi tersebht dilakukan dalam rangka mengungkap kasus korupsi yang terjadi telah lama sekitar 6-7 tahun. Namun sayangnya bukti berupa LPJ baru didapatkan tahun 2019.

“Kami meminta hentikan kriminalisasi kepada guru yang telah berani membuka tabir korupsi di SMAN 21 Kabupaten Tangerang,” pungkasnya.

Menurutnya, kezaliman ini bukanlah hal yang biasa, sehingga pihaknya merasa harus dihentikan. Apabila tidak dihentikan, maka ini akan membuat nama baik lembaga pendidikan tercoreng.

“Masyarakat harus mendukung upaya para guru dan komite sekolah dalam mengungkap kasus ini. Hendaknya kasus ini juga menjadi pelajaran bagi sekolah lain terutama sekolah yang berada di Kabupaten Tangerang,” tuturnya.

Artikel : liputankota.com (Ica/Def)

Facebook Comments